(STUDI EMPIRIS PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ)

WINDYASTUTI
UPN “VETERAN” Yogyakarta
FRASTO BIYANTO
STIE YKPN Yogyakarta

ABSTRACT

A fundamental assumption in cost accounting is that the relation between cost and volume is symmetric for volume increases dan decreases. In this research we investigate whether cost is “sticky”. The cost is sticky if whether cost increase more when volume rises than they decrease when volume fall by an equivalent amount.

We find for 25 firms over 4 years, that selling, general and administrative (SG&A) cost increase on average 0,68 persen per 1 persen increase in volume, but decrease only 0,08 persen per 1 persen decrease in volume. The degree of stickiness increases during macroeconomic growth. The degree of stickiness also increases with asset intensity but decreases with employee intensity.

Keywords: sticky cost; selling, general and administrative cost; macroeconomic growth;
asset intensity; employee intensity.

LATAR BELAKANG

Dalam literatur akuntansi kos disebutkan klasifikasi kos berhubungan dengan input/output yaitu kos variabel, kos tetap dan kos semi-variabel. Kos variabel merupakan kos yang totalnya berhubungan dengan perubahan input/output secara proposional, tetapi total kos tetap tidak dipengaruhi perubahan input/output. Kos semi-variabel merupakan kos yang totalnya dipengaruhi volume sumber daya tapi tidak proposional. Tidak ada penjelasan lebih lanjut bagaimana ketidakproposionalan total dengan volume tersebut.

Pengaruh tidak proposional tersebut di atas merupakan perilaku kos, dimana besarnya perubahan kos tergantung pada perubahan tingkat aktifitas. Akan tetapi, beberapa dugaan bahwa kos meningkat lebih tinggi saat volume aktivitas meningkat dibanding penurunan kos saat volume aktivitas menurun (Cooper & Kaplan, 1998 dalam Anderson et al, 2003). Perilaku kos ini disebut sticky. Kos disebut sticky ketika besarnya kenaikan kos yang disebabkan penambahan volume lebih besar dibanding besarnya penurunan kos yang disebabkan penurunan volume ekuivalen.

Perilaku kos berhubungan dengan keputusan manajer menghadapi ketidakpastian permintaan di masa mendatang. Kos menyesuaikan dengan perubahan volume sumber daya yang sudah dipesan manajer, sedangkan volume sumber daya dipengaruhi permintaan yang fluktuatif. Sehingga manajer perlu hati-hati dalam perencanaan pesanan sumber daya, yaitu menunda pesanan sampai mendapat kepastian permintaan yang turun (Anderson, et al, 2003).

Keterbatasan penelitian perilaku kos karena kesulitan mendapatkan data yang bisa digunakan sebagai proksi kos dan relevant drivers. Sehingga, penelitian ini menggunakan kos pemasaran, administrasi dan umum (PA&U) sebagai proksi kos dan pendapatan penjualan bersih sebagai proksi relevant drivers. Di Indonesia penelitian perilaku kos belum banyak dilakukan.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com

ANALISIS PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN TERHADAP KINERJA
MANAJERIAL MELALUI KOMITMEN TUJUAN ANGGARAN DAN JOB
RELEVANT INFORMATION (JRI) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
(Penelitian Terhadap Perusahaan Manufaktur Di Indonesia)


KUSNASRIYANTI YUSFANINGRUM
Universitas Diponegoro Semarang

IMAM GHOZALI
Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRACT

The purpose of this research is to analyst the influence of participation in composing budget toward managerial performance, whether through budget goal commitment and job-relevant information as intervening variable. The inconsistency situations between results of the prior researchs, about the influence of budget participation on managerial performance become a motivation of this study.

Data used in this study is obtained from ideas or perceptions of managers/ chiefs leveled as managers who filled and gave the questionnaires back to the researcher. From 700 questionnaires which distributed to managers/ chiefs leveled as managers on manufacturing companies which listed in BEJ, 168 (24%) questionnaires were sent back, for then analyzed with multivariate technique SEM and assist by the AMOS 4.01 and SPSS 10.0 programs.

The result of these study proving that the value of directly influence between budget participation toward managerial performance is higher than influence of budget participation toward managerial performance through budget goal commitment and job relevant information as intervening variable. However, the researcher can make conclusion that budget goal commitment and job relevant information as intervening variable weaken influence managers participation in compose budget toward their performance on managerial activities.

Key words : budget participation, budget goal commitment, job relevant information and managerial performance.


LATAR BELAKANG PENELITIAN

Sampai saat ini, hasil penelitian mengenai partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial masih menunjukkan pertentangan. Hasil penelitian yang bertentangan tersebut mendorong para peneliti untuk memeriksa variabel-variabel yang terlibat, dengan tujuan memperjelas hubungan partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial. Vincent K. Chong dan Kar Ming Chong (2002) telah melakukan suatu penelitian yang menguji peran komitmen tujuan anggaran dan job-relevant information (JRI) diantara hubungan partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya partisipasi dalam penyusunan anggaran mempengaruhi komitmen bawahan terhadap tujuan anggaran. Pengaruh komitmen terhadap tujuan anggaran tersebut secara simultan akan menggerakkan pengaruh informasi pada tingginya keterlibatan diri manajer tingkat bawah sehingga mereka meningkatkan usaha untuk mengumpulkan, menukarkan dan menggunakan JRI yang pada akhirnya meningkatkan kinerja mereka.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Vincent K. Chong dan Kar Ming Chong (2002). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Vincent K. Chong dan Kar Ming Chong (2002) terletak pada kerangka pemikiran teoritis. Penelitian yang dilakukan oleh Vincent K.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


JANTJE EDUARD LEKATOMPESSY
Universitas Pattimura Ambon

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris perbedaan komitmen professional diantara hirarki akuntan, dan menguji apakah komitmen afektif dan berkelanjutan berpengaruh pada komitmen professional, dan apakah hirarki akuntan berpengaruh pada hubungan antara komitmen afektif dan berkelanjutan dengan komitmen professional.

Penyempelan menggunakan teknik konveniens. Responden adalah para akuntan yang bekerja pada kantor akuntan publik. Terdapat 140 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Model diuji dengan menggunakan oneway ANOVA dan moderated regression analysis (MRA).

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komitmen professional di antara para akuntan. Komitmen afektif berpengaruh secara positif dan signifikan dengan komitmen professional sedangkan komitmen berkelanjutan tidak berpengaruh dengan komitmen professional. Hirarki akuntan memoderasi hubugan antara komitmen afektif dan berkelanjutan dengan komitmen professional.

Kata kunci: hirarki akuntan, komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, komitmen profesional

1. PENDAHULUAN

Menurut teori sosiologi klasik tentang profesi (Goode 1957) menyebutkan bahwa masyarakat mempunyai prestise dan kekuatan terhadap profesi disebabkan karena para prosefesional mempunyai bodies of knowledge yang terkait dengan pusat keinginan dan nilai dari suatu sistem social. Untuk diharapkan para professional dalam menjalankan tugas profesinya harus berpegang pada nilai-nilai professional. Larson (1977) dalam Aranya dkk (1981) mengatakan bahwa masyarakat mengharapkan para professional untuk berkomitmen terhadap jasa yang diberikan kepada publik melebihi insentif material.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka akuntan sebagai suatu profesi harus menunjukkan sikap professional dalam melakukan pekerjaan. Aranya dkk (1981) berpendapat bahwa profesi akuntan berbeda dengan profesi lainnya. Profesi akuntan melakukan praktek publik yang diharapkan dapat memberikan jasanya kepada pihak ketiga disamping pihak klien yang menginginkannya.

Untuk itu berbagai peneliti telah melihat masalah tersebut terutama dalam hubungan dengan komitmen professional. Porter dkk (1974) dan Mowday dkk (1979) mengatakan bahwa komitmen berkaitan dengan a) adanya keinginan yang kuat dan penerimaan atas tujuan dan nilai-nilai organisasi; b) kesediaan untuk berusaha yang sebesar-besarnya untuk organisasi; dan c) adanya keinginan yang pasti untuk mempertahankan keikutsertaan dalam oganisasi. Para peneliti dalam bidang akuntansi yang melakukan penelitian misalnya Aranya dkk (1981); Aranya dan Ferris (1984); Harrel dkk (1986); Kalbers dan Fogarty (1995); serta McGregor dkk (1989). Mereka mengkaji hubungan antara professional dengan komitmen dalam organisasi.

Penelitian-penelitian tersebut juga mengkaji hubungan antara komitmen organisasional dengan komitmen professional. Komitmen professional menurut Aranya dan Ferris (1981) didefinisikan sebagai a) adanya keinginan yang kuat dan penerimaan atas tujuan dan nilai-nilai profesi; b) kesediaan untuk berusaha yang sebesar-besarnya untuk profesi; dan c) adanya keinginan yang pasti untuk mempertahankan keikutsertaan dalam profesi.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com

TEODORA WINDA MULIA
Unika Widya Mandala Surabaya

INDRA WIJAYA KUSUMA
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Abstract

Mentoring and peer programs are applied by Public Accounting Firm because of their positive impact to Public Accounting Firm that have specific characteristic in temporer team work. However, practically these programs have perceived barries in career improvement.It involves 64 accountant as sample of this research. This research want to know the corelation of factors that expected with perceived barriers. There are several factors sucs as formalisation relations, gender, position, firm size, formalization of policy and organization procedures. Statistically model by Anova and logistic Regression (p<>
PENDAHULUAN

Pada umumnya setiap jenjang karir seseorang diawali dengan mengenali kompleksitas dan karakteristik pekerjaan yang akan dilakukannya, mengenali lingkungan organisasi baik budaya perusahaan, interaksi antara atasan dengan bawahan dan rekan sekerjanya. Proses ini dikenal dengan istilah pementoran seperti yang sering dilakukan di Kantor Akuntan Publik (KAP). Allen et al (2000) mendefinisikan mentor adalah orang yang biasanya dipertimbangkan, lebih berpengalaman, yang mendukung, melatih, mengajar cara-cara atau mendorong yang lain sebagaimana dia mengejar tujuan karirnya Tugas mentor adalah menjelaskan peraturan organisasional dan kebijakan perusahaan, mengusulkan tindakan alternatif. Keuntungan bagi organisasi dengan adanya pementoran ini adalah mentor menanamkan dan mengembangkan nilai dan norma organisasi dan memfasilitasi pengembangan bakat manajerial secara profesional serta mendidik karyawan yang kurang berpengalaman (Hunt dan Michael; 1983 dalam Kaplan, Keinath dan Walo, 2001). Dalam Kantor Akuntan Publik selain terbentuk hubungan pementoran, juga terbentuk hubungan sejawat yaitu meliputi individu dengan posisi sejenis (Kaplan et al, 2001).

Jenis komunikasi yang terjadi dalam perusahaan bisa bersifat formal dan bisa juga bersifat non formal, walaupun pementoran ini umumnya merupakan bagian komunikasi perusahaan yang bersifat tidak spontan atau terjadi karena aturan perusahaan namun Dirsmith dan Covaleski (1985) menyimpulkan bahwa pementoran yang terdapat di Akuntan Publik merupakan proses komunikasi informal karena terjadi diluar sistem komunikasi formal perusahaan yang terjadi pada saat mentor dan terasuh saling menghormati satu dan yang lain.

Dirsmith dan Covaleski (1985) menemukan bahwa banyak manajer yang mempunyai mentor sedang beberapa level staf dengan jabatan yang lebih rendah tidak memiliki mentor. Staf yang memiliki mentor menjelaskan bahwa dirinya merasa memiliki pemikiran dan tindakan yang sesuai dengan KAP, mendapatkan dukungan dan bimbingan yang cukup dalam promosi dan lebih memahami kebijakan KAP.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


(STUDI TERHADAP PERAN FAKTOR-FAKTOR INDIVIDUAL: LOCUS OF CONTROL, LAMA PENGALAMAN KERJA, GENDER, DAN EQUITY SENSITIVITY )

PUTRI NUGRAHANINGSIH
Alumni Fakultas Ekonomi UNS

ABSTRACT

This study purposes to examine whether there is different of ethical behaviour between auditors based on individual factors (locus of control, years of job experience, gender, and equity sensitivity) and to find out how perception of auditorss toward the ethic code of Indonesian accountants associate. The populations of the research are auditors who work in public accountant office in Surakarta and Yogyakarta. This research uses convenience sampling method to collect sample.

The result of hypothesis test shows there is significantly ethical behaviour between internal locus of control auditors and external locus of control auditors, between senior auditors and junior auditors, and between benevolents auditors and entitleds auditors and also there is no significantly ethical behaviour differences between men auditors and women auditors.

The result of additional analysis using proportion test shows that all of respondents (auditors) in this research have positive perception toward the ethic code of Indonesian accountants associate, so all of respondents have ethical behaviour, although have different level from each individual based on different of their individual factors.

Keywords: ethical behaviour, auditors, profession ethics, perception, the ethic code of the Indonesian accountants associate, internal locus of control, external locus of control, senior, junior, men, women, entitleds, benevolents.


PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Banyak masalah yang terjadi pada berbagai kasus bisnis yang ada saat ini melibatkan profesi akuntan. Sorotan yang diberikan kepada profesi ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya praktik-praktik profesi yang mengabaikan standar akuntansi bahkan etika. Perilaku tidak etis merupakan isu yang relevan bagi profesi akuntan saat ini.

Di Indonesia, isu mengenai etika akuntan berkembang seiring dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika, baik yang dilakukan oleh akuntan publik, akuntan intern, maupun akuntan pemerintah (Ludigdo,1999). Pengembangan dan kesadaran etik/moral memainkan peran kunci dalam semua area profesi akuntansi (Louwers et al. dalam Muawanah dan Indriantoro, 2001). Profesi akuntan tidak terlepas dari etika bisnis yang mana aktivitasnya melibatkan aktivitas bisnis yang perlu pemahaman dan penerapan etika profesi seorang akuntan serta etika bisnis (Ludigdo dan Machfoedz, 1999).

Akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi dimana mereka bernaung, profesi mereka, masyarakat dan diri mereka sendiri. Akuntan mempunyai tanggungjawab menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan obyektivitas mereka. Analisis terhadap sikap etis dalam profesi akuntan menunjukkan bahwa akuntan mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tidak etis dalam profesi mereka (Fine et al. dalam Husein, 2004. Kesadaran etika dan sikap profesional memegang peran yang sangat besar bagi seorang akuntan (Louwers et al. dalam Husein, 2004).

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


AIDA AINUL MARDIYAH
STIE Malangkucecwara Malang

LISTIANINGSIH
Alumni STIE Malangkuçeçwara Malang


ABSTRACT

This study intends to identify the influencing of measurement performance ystems, reward systems, and profit center for relationship total quality management with management performance. Data is selected using random sampling. The analysis units for responses of 22 managers¾middle management and marketing¾. The data collection is performed using mail survey. The statistic method used to test the hypotheses is multiple regression.

The study results are as follows: first, the results provide support for the hypothesis that measurement performance systems and total quality management have an interactive effect on management performance, second, the results provide support for the hypothesis that reward systems and total quality management have an interactive effect on management performance, third the results provide no support for the hypothesis that profit center and total quality management have an interactive effect on management performance, fourth, the normal data test using p-p plot and non response bias using t-test shows an insignificant result. This means that there are non response bias and the normal data, fifth, this is demonstrated by the multicolinearity number r < 0,8 or VIF mean 1 that shows that the multicolinearity is not dangerous, the Durbin Watson approaches 2 which means that between one variable and the other there is no dependency relationship (independent), and homoscedacity occur.

Keywords: total quality management (TQM), measurement performance systems, reward systems, profit center, and management performance.

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Penelitian

Lingkungan persaingan yang semakin tajam dan bersifat global menuntut perusahaan meningkatkan mutu dan keunggulan daya saing yang dipengaruhi oleh dua faktor penting yaitu mutu yang tinggi dan biaya yang rendah. Perusahaan-perusahaan manufaktur berusaha melakukan perbaikan terus menerus biasanya menggunakan teknik-teknik total quality management (TQM) atau Just-In-Time (JIT). Beberapa perusahaan yang telah menerapkan TQM, ada yang telah berhasil meningkatkan kinerjanya, tetapi ada juga yang belum mampu meningkatkan kinerjanya (Sim dan Killough, 1998).

Beberapa peneliti bidang akuntansi menyatakan bahwa kinerja perusahaan yang rendah, disebabkan oleh ketergantungannya terhadap Sistem Akuntansi Manajemen perusahaan tersebut yang gagal dalam penentuan sasaran-sasaran yang tepat, pengukuran kinerja, dan sistem penghargaan (reward). Efektifitas penerapan TQM memerlukan perubahan mendasar infrastruktur organisasional, meliputi: sistem alokasi wewenang pembuatan keputusan, sistem pengukuran kinerja, sistem reward, dan hukuman.

Temuan Ittner dan Larcker (1995) tidak menemukan bukti bahwa organisasi yang mempraktikan TQM dan Sistem Akuntansi Manajemen dapat mencapai kinerja yang tinggi. Peneliti lainnya yaitu Sim dan Killough (1998) serta Kurnianingsih (2000) menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara praktik penerapan TQM dengan desain Sistem Akuntansi Manajemen terhadap kinerja.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


(Studi Empiris pada Kantor Cabang Perbankan Indonesia di Jakarta)

J. SUMARNO
Magister Akuntansi STIE Y.A.I

ABSTRAKSI

Studi ini meneliti pengaruh komitmen organisasi dan gaya kepemimpinan terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan bukti empiris tentang (a) hubungan dan pengaruh posistif dan signifikan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial; (b) komitmen organisasi dapat menjadi moderasi hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial; dan (c) gaya kepemimpinan dapat menjadi moderasi hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.

Responden penelitian ini pimpinan (manajer) kantor cabang utama bank-bank di Jakarta, dengan populasi sebesar 170 kantor cabang utama. Pengumpulan data dilakukan selama tiga bulan, mulai pertengahan September 2004 sampai pertengahan Desember 2004. Dari 170 kuesioner yang disampaikan, diterima kembali dan diisi lengkap sebanyak 90 kuesioner (52,94%). Pengumpulan data dngan daftar pertanyaan yang diadopsi dari peneliti terdahulu. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan moderating regression analysis (MRA) dan regresi interaksi antarvariabel.

Hasil penelitian adalah (1) terdapat pengaruh dan hubungan negatif yang signifikan antara kinerja manajerial dan partisipasi anggaran, (2) pengaruh komitmen organisasi terhadap hubungan kinerja manajerial dan partisipasi anggaran adalah positif dan signifikan, dan (3) pengaruh gaya kepemimpinan terhadap hubungan antara partisipiasi anggaran dan kinerja manajerial adalah tidak signifikan.

Kata kunci : komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, partisipasi anggaran, dan kinerja
manajerial.

Pendahuluan

Banyak penelitian bidang akuntansi manajemen yang menaruh perhatian pada masalah partisipasi anggaran (Brownell,1981). Hal ini karena anggaran partisipatif dinilai mempunyai konsekuensi terhadap sikap dan perilaku anggota organisasi (Murray,1990). Pengaruh anggaran partisipatif pada kinerja manajerial merupakan tema yang menarik dalam penelitian akuntansi manajemen (Lukka,1988). Brownell (1982b) menyebutkan dua alasan, yaitu (a) partisipasi dinilai sebagai pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja anggota organisasi, dan (b) berbagai penelitian yang menguji hubungan antara partisipasi dan kinerja hasilnya saling bertentangan.

Termotivasi hasil penelitian terdahulu, penelitian ini mengkonfirmasi kembali apakah partisipasi anggaran mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial. Di samping itu, juga menguji apakah variabel gaya kepemimpinan (Brownell, 1983) dan variabel komitmen organisasi (Nouri & Parker, 1995) dapat memoderasi hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial. Responden penelitian ini adalah pimpinan kantor cabang utama bank-bank di Jakarta. Responden ini dipilih karena pimpinan cabang bank sebagai unit pertanggung jawaban dibebani dengan target anggaran, disamping itu variabel komitmen organisasi dan variabel gaya kepemimpinan diduga merupakan faktor yang mampu mempengaruhi upaya pencapaian terget tersebut.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


CHASTINA YOLANA
KAP Prasetyo Sarwoko & Sandjaja/Ernst & Young

DWI MARTANI
Dosen Departemen Akuntansi FEUI

ABSTRACT

Underpricing is phenomenon of IPO which often happened in capital market and have been proved by researchers in many countries. This research aim to prove phenomenon of underpricing in Bursa Efek Jakarta at 1994-2001 and study the factors influencing of underpricing. This research uses mean adjusted return as underpricing measurement. Independent variables of the research are reputation of undwewriting, rate of foreign currency, total asset, ROE and industrial type. The research use multiple regression model to test the relationship between dependent and independent variabel.

This research result prove that phenomenon of underpricing happened in BEJ at 1994 - 2001 and consistent with researchs before in BEJ. The level of underpricing during periode is 38%. Rate of foreign currency, total asset, ROE and industrial type significantly correlated to underpricing. In this model, only reputation of underwriting that not significantly correlated to underpricing.

Kata kunci : Underpricing, Initial Return, IPO, Reputasi Penjamin Emisi, Kurs, Total Aktiva, ROE, Jenis Industri.

Pendahuluan

Underpricing adalah adanya selisih positif antara harga saham di pasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana atau saat IPO. Selisih harga inilah yang dikenal sebagai initial return (IR) atau positif return bagi investor. Underpricing adalah yang umum dan sering terjadi di pasar modal manapun saat emiten melakukan IPO.

Penelitian ini akan menguji variabel-variabel bebas yang diduga mempengaruhi underpricing, yang berupa informasi keuangan dan non keuangan, yaitu, skala perusahaan (total aktiva), profitabilitas (ROE), kurs, reputasi penjamin emisi, jenis industri (industri barang konsumen). Variabel-variabel dalam penelitian ini pada sudah pernah diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com



RAHMAT FEBRIANTO
Universitas Andalas
ERNA WIDIASTUTY

Alumni Universitas Gajah Mada

ABSTRAK

When a researcher wants to test the relationship between accounting income number and share price, he/she (naturally) will use operating income or net income numbers. The earlier is chosen because this number is operative, can be “traced” to income, while the later is chosen because its close relationship with investor-since it will be paid as dividend.

This research tries to prove whether these two income numbers have better quality, compared to the third income number: gross profit. The results show that gross profit number has the best quality and statistically significant in all windows used.

Keywords: market reaction, earnings response coefficient, gross profit, operating profit,
net profit.

Latar Belakang Masalah

Riset akuntansi keuangan, terutama yang mencari hubungan angka laba dengan harga saham selalu menggunakan angka laba operasi atau EPS-yang dihitung menggunakan angka laba bersih dan tidak pernah angka laba kotor. Sebenarnya, di satu sisi, PSAK No. 1 (IAI, 2002) menyatakan, secara implisit, bahwa laporan laba rugi harus memuat informasi laba kotor, laba operasi, dan laba bersih. Semangat yang ada di dalam perincian masing-masing angka laba tersebut sebenarnya untuk tujuan pengukuran efisiensi manajer dalam mengelola perusahaan.

Laba kotor adalah selisih dari pendapatan perusahaan dikurangi dengan kos barang terjual. Kos barang terjual adalah semua biaya yang dikorbankan, yang untuk perusahaan pemanufakturan, mulai dari tahap ketika bahan baku masuk ke pabrik, diolah, dan hingga dijual. Semua biaya-biaya langsung yang berhubungan dengan penciptaan produk tersebut dikelompokkan sebagai kos barang terjual. Bagi perusahaan dagang, kos barang terjual ini akan terdiri dari biaya-biaya: harga beli barang dan biaya lain yang dikeluarkan untuk menjadikan barang tersebut siap dijual.

Angka laba operasi adalah selisih laba kotor dengan biaya-biaya operasi. Biayabiaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan operasi perusahaan. Per definisi, biaya-biaya ini adalah biaya-biaya yang sering terjadi di dalam perusahaan dan bersifat operatif. Selain itu, biaya-biaya ini diasumsikan memiliki hubungan dengan penciptaan pendapatan. Di antara biaya-biaya operasi tersebut adalah: biaya gaji karyawan administrasi, biaya perjalanan dinas, biaya iklan dan promosi, dan lain-lain.

Angka laba ketiga adalah laba bersih. Laba bersih berarti adalah angka yang
menunjukkan selisih antara seluruh pendapatan yang operatif maupun tidak-dan seluruh biaya-operatif maupun tidak. Dengan demikian, sesungguhnya laba bersih ini adalah laba yang menunjukkan bagian laba yang akan ditahan di dalam perusahaan dan yang akan dibagikan sebagai dividen.

Selain memiliki makna semantik dan sintaktik seperti di atas, laba juga memiliki makna pragmatik. SFAC No. 1 menyatakan bahwa laba akuntansi adalah alat ukur yang baik untuk mengukur kinerja perusahaan dan bahwa laba akuntansi bisa digunakan untuk meramalkan aliran kas perusahaan (Hendriksen dan Van Breda, 2001: 311).

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


RAHMAWATI
Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRACT

The purpose of this research are to know: (1) is there nonlinearity relationship between earnings and stock return, (2) is there nonlinearity relationship between cash flow and stock return that is moderated with earnings/price ratio, (3) is there nonlinearity relationship between accrual and stock return. The result of this research can used as judgment for the practise in decision making with information earnings, cash flow and accrual and what is primary to be expected.

This research uses 41 manufacturing firms that listed in Jakarta Stock Exchanges, which are selected by using purposive random sampling. Those selected firms announced their financial statement during 1998 until 2002. Assumption classics test is done, there are normality test with Jarque-Bera (JB) Test of Normality, linierity test with scatterplot, heteroscedasticity test with White Heteroskedasticity test, autocorrelation test with Durbin-Watson test. The hypothesis is tested by NLS (Non Linier Least Square) model
regression.

Value relevance earnings (unexpected) begin lost their value relevance but to earnings level, there are significant examination year. Value relevance component cash flow are consistent with Hodgson and Clarke (1998) research that give the greaterexplanatory power. Value relevance accrual is same as value relevance earnings (unexpected).

Keyword: earnings, cash flow component, accrual, return stock

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan dari analisis laporan keuangan adalah untuk menaksir nilai perusahaan. Banyak penelitian empiris akuntansi telah berusaha untuk menemukan nilai relevan (value-relevant) atribut akuntansi dalam rangka mempertinggi analisis laporan keuangan. Atribut akuntansi diduga menjadi value-relevant karena atribut akuntansi ini secara statistik berhubungan dengan harga saham. Contoh penelitian yang monumental adalah studi dari Ball dan Brown (1968) dan beberapa penelitian tentang kandungan informasi mengindikasikan bahwa laba akuntansi dan beberapa komponennya menangkap informasi yang terdapat dalam harga saham.

Studi-studi sebelumnya telah mencatat kandungan informasi dalam earnings dari harga-harga saham tetapi belum menyediakan bukti yang menyimpulkan kandungan informasi inkremental yang terdapat pada modal kerja dan arus kas operasi. Studi dari Ali (1994) berasumsi bahwa terdapat hubungan linier antara return dan informasi akuntansi. Dalam studi tersebut dikembangkan riset sebelumnya dengan memasukkan hubungan non linier antara return dengan masing-masing dari tiga variabel yaitu: earnings, modal kerja dari operasi dan arus kas.

Bila ukuran kinerja yang lain (terutama modal kerja dari operasi kejutan dan arus kas kejutan) juga memiliki konsentrasi yang tinggi dalam komponen transitori dalam observasi yang besar, maka koefisien regresi dari model multivariate linier pada studistudi sebelumnya juga akan mengalami bias ke arah nol. Sehingga dapat disimpulkan riset sebelumnya juga gagal untuk menolak hipotesis nol, bahwa tidak terdapat kandungan informasi dalam modal kerja dari operasi dan arus kas, padahal hipotesis nol ini salah.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..
Link: www.ziddu.com



FUAD
Universitas Dian Nuswantoro

Abstract

This study investigated the simultaneity of four financial variables that are hypothesized to control agency costs. It builds a model showing that debt, dividend, insider ownership, and corporate ownership are determined simultaneously as each of the variables is hypothesized to affect agency cost. This study developed the graphical analysis, as well as empirical evidences employing both Hausman specification test and three-stage least squares test. The study proved that corporate ownership was determined simultaneously by the other agency control variables, while dividend payout, debt and insider ownership were partially determined by those agency control variables. Further results, however, did not find the presence of non-linier relationship between insider ownership and all of agency control variables. Finally, this study reveals that there is a trade-off and simultaneity in the financial decision making variables to control the agency costs.

Keyword: agency problems, dividend payout, debt, managerial ownership, corporate ownership

PENDAHULUAN

Masalah agensi telah menarik perhatian yang sangat besar dari para peneliti di bidang akuntansi keuangan, yang timbul karena adanya konflik kepentingan antara shareholder dan manajer, karena tidak bertemunya utilitas yang maksimal antara mereka. Manajer memiliki kewajiban untuk memaksimalkan kekayaan shareholder, sedangkan kepentingan pribadi manajer sesungguhnya adalah untuk memaksimalkan kekayaannya. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa masalah agensi tersebut dapat memburuk, apabila persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh manajer sedikit. Jensen dan Meckling menitik-beratkan pada utilisasi hutang, sebagai substitusi dari kepemilikan manajerial, untuk dapat membantu mengurangi konflik agensi antara shareholder dengan manajemen.

Biaya agensi juga dapat diminimalisir dengan meningkatkan monitoring terhadap perusahaan. Monitoring tersebut tidak hanya terbatas dilakukan oleh pihak dari dalam perusahaan, namun juga dapat dilakukan dari pihak eksternal perusahaan (terutama investor institusional). Penelitian yang membuktikan mengenai peran investor institusional dalam mengurangi biaya agensi telah banyak dilakukan (misalnya shleifer dan Vishny 1986; Coffee 1991). Pozen (1994) mengungkapkan beberapa metode yang digunakan oleh pemilik institusional dalam mempengaruhi pengambilan keputusan manajerial, mulai dari diskusi informal dengan manajemen, sampai dengan pengendalian seluruh kegiatan operasional dan pengambilan keputusan perusahaan.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com


(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN UTILITAS PUBLIK
DAN PERUSAHAAN DALAM INDUSTRI TIDAK DIREGULASI)

LISIA APRIANI
Universitas Sanata Dharma

ABSTRACT

It has long been known that announcements of unexpected changes in dividend payments provide information affecting the market values of the companies making the change. This study compare market reactions to dividend announcements of Public Utilities vs Unregulated Industrial Firms.

The analysis uses data from 2 Public Utilities Firms and 5 Unregulated Industrial Firms during the period 1999 – 2003. I examine stock prices 2 weeks before dividend announcement date and 2 weeks after dividend announcements date. The analysis using t-test shows that there are market respons to dividend announcements of Public Utilities.

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Kebijakan dividen adalah salah satu dari persoalan yang sangat diperdebatkan di keuangan (finance). Sekolah-sekolah keuangan telah ikut serta dalam merumuskan teori untuk menjelaskan mengapa perusahaan harus membayar dividen atau tidak (Baker dan Powell, 1999). Muncul beberapa studi empiris yang mendukung dan menolak relevansi dividen. Beberapa peneliti yang menolak relevansi dividen antara lain Miller dan Modigliani (1961), Black dan Scholes (1974), Miller dan Scholes (1978), Jose dan Stevens (1989). Sedangkan beberapa peneliti lainnya yang mendukung relevansi dividen adalah Long (1978), Sterk dan Vandenberg (1990).

Beberapa peneliti telah mengembangkan dan menguji berbagai model untuk menjelaskan perilaku dividen. Telah dilakukan survei terhadap manajer kantor pusat dan investor untuk menentukan pandangan mereka mengenai dividen. Motivasi sesungguhnya untuk membayar dividen masih merupakan teka-teki. Penelitian yang dilakukan oleh Baker dan Powel menyelidiki pandangan manajer kantor pusat di perusahaan-perusahaan Amerika mengenai tiga hal yaitu (1) hubungan antara nilai perusahaan dan kebijakan dividen (2) penjelasan mengenai relevansi dividen meliputi bird-in the hand, signaling, pemilihan pajak dan penjelasan keagenan dan (3) bagaimana perusahaan menentukan jumlah dividen yang dibayarkan. Mereka juga menguji apakah respon mengenai hal ini berbeda diantara tiga kelompok industri (manufaktur, perdagangan eceran dan utilitas).

Memahami keyakinan manajer yang terlibat dalam penetapan kebijakan dividen mungkin memberi kontribusi terhadap pemahaman kita mengenai mengapa perusahaan membayar dividen kas. Penelitian yang dilakukan oleh Baker dan Powell ini juga memberi kontribusi terhadap riset survei mengenai kebijakan dividen. Bukti-bukti temuan menunjukkan:
1. Sebagian besar responden yakin bahwa kebijakan dividen mempengaruhi nilai perusahaan.
2. Responden biasanya mengatakan sangat setuju dengan pernyataan mengenai signaling explanation dari relevansi dividen.
3. Pandangan manajer mengenai penetapan pembayaran deviden saat ini konsisten dengan yang dilaporkan oleh manajer menurut wawancara yang dilakukan oleh Litner (1956).
4. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik diantara tiga industri.

..Selengkapnya bisa didownload
..(klik link di bawah ini)
..Link: www.ziddu.com

Baca Update Jurnal dari Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner



Arsip Blog